Sunday, 4 August 2013

Generasi Nasional Pertanian (GENTA) 2013

Generasi Nasional Pertanian (GENTA) 2013 diselenggarakan melalui tiga rangkaian kegiatan, yaitu Share, Fight, danFun.
1.      SHARE
Share merupakan kegiatan berupa diskusi bersama antara narasumber bidang penyuluhan pertanian, mahasiswa pertanian, penyuluh pertanian daerah Bogor, dan petani Bogor. Diskusi didasarkan pada asas berbagi ilmu, pengalaman, dan saling bertukar pendapat hingga dapat merumuskan pemecahan dari berbagai masalah yang ada terkait dengan penyuluhan pertanian. Share terbagi ke dalam 3 bentuk kegiatan yang dilaksanakan secara berurutan pada hari pertama GENTA sebagaiberikut.
Nama Kegiatan
Deskripsi
Youth Paper
Competition (YPC)
YPC merupakan lombakarya tulis ilmiah yang diperuntukkan bagi seluruh mahasiswa perguruan tinggi se-Indonesia. Keterlibatan mahasiswa secara umum bertujuan untuk mengetahui berbagai pandangan mahasiswa yang berasal dari disiplin ilmu berbeda terhadap penyuluhan, dengan harapan dapat menambah referensi solusi efektif. Tema-tema karya tulis yang ditawarkan kepada mahasiswa adalah komunikasi efektif, teknologi tepat guna, serta sikap dan strategi kerja penyuluh. Karya tulis dibuat oleh kelompok dengan anggota 1 sampai 3 orang. Karya tulis yang dikirimkan terlebih dahulu dalam bentuk softcopy akan dievaluasi oleh juri-juri yang merupakan dosen dari kompetensi ilmu (tema). Selanjutnya akan diambil 9 kelompok (masing-masing tema 3 kelompok) sebagai finalis dan akan mempresentasikan karya tulisnya pada hari pertama yaitushare. YPC akan dilaksanakan dengan timeline berikut.
15 Juli - 15 September 2013 : Pendaftaran, pengiriman biaya, dan pengiriman berkas via email
20 September 2013 : Pengumuman 9 finalis (di Blog GENTA 2013)
28 September 2013 : Presentasi finalis di IPB, Dramaga, Bogor
Secara umum, harapannya YPC dapat menjadi sarana menuangkan ide solusi untuk berbagai permasalahan yang ada berkaitan dengan penyuluhan.
Agriculture Information Seminar (AIS)
AIS merupakan seminar yang diberikan oleh narasumber berkompetensi ilmu pertanian secara mendasar yang diterapkan dalam better farming. Seminar akan dilaksanakan sebanyak satu sesi secara panel dari tiga orang narasumber yang masing-masing tema dan dilanjutkan dengan tanya jawab bersama peserta yang berasal dari penyuluh, petani, dan mahasiswa. Narasumber yang akan hadir sebagai pembicara AIS, diantaranya;
     1.      Ernan Rustiadi (Dekan Fakultas Pertanian IPB)
     2.      Dedy Kusnadi, SP. M. Si (Dosen Sekolah Tinggi Penyuluhan
           Pertanian Bogor)
     3.      Dr. Ir. Ninuk Purwaningsih M, Si. (Dosen Sains Komunikasi
           dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia
           IPB)

Moderator: Dery Ramdan Pratama(Menteri Pertanian BEM KM IPB 2013)

Bahasan dari seminar yang disampaikan merupakan bekal untuk melaksanakan kegiatan Fight, dengan tujuan agar terlaksana sesuai ilmu yang tepat dan efektif. AIS dilaksanakan dengan tujuan berbagi ilmu dari narasumber yang mengerti betul bagaimana dinamika dalam penyuluhan, juga narasumber yang sangat berpengalaman (bekerja berkaitan erat dengan penyuluhan), dengan harapan dapat meluaskan pandangan para peserta (penyuluh, petani, dan mahasiswa), dapat menambah wawasan serta meningkatkan semangat kerja penyuluh.
Focus Group Discussion (FGD)
FGD merupakan kegiatan diskusi secara intensif antara narasumber, penyuluh, petani, dan mahasiswa. FGD akan dilaksanakan oleh setiap kelompok yang terdiri dari berbagai pihak tersebut sebanyak 7-10 orang. Studi kasus yang menjadi bahasan dalam setiap kelompok FGD merupakan tema-tema yang digunakan dalam kegiatan YPC. Adapun tema-tema yang menjadi fokus kajian antara lain;
1.      Komunikasi Efektif
2.      Teknologi Tepat Guna
3.      Sifat dan Strategi Penyuluh
FGD dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan dan memperbaharui komunikasi antar berbagai pihak, serta diharapkan sebagai media dalam merumuskan solusi efektif bagi permasalahan penyuluhan yang ada. 

2.      FIGHT
Fight merupakan praktik turun lapang bersama mahasiswa, penyuluh dan para petani. Turun lapang dilaksanakan dengan tujuan mengaplikasikan ilmu - ilmu penyuluhan pertanian secara sinergis, optimal, tepat sasaran dan efektif. Fight dilaksanakan di desa binaan (Ciaruteun Ilir) BEM KM IPB dengan harapan dapat mengembalikan dan meningkatkan potensi pertanian yang ada pada desa tersebut. Kegiatan Fightmemiliki rangkaian sebagai berikut.
Nama Kegiatan
Deskripsi
Agriculture Information Socialization (AISoc)
AISoc dalam hal ini merupakan simulasi dari pelaksanaan penyuluhan, dilaksanakan oleh penyuluh kepada petani. Penyuluhan dilaksanakan berpedoman pada ilmu yang telah didapatkan dari kegiatan Share. Hal yang disampaikan dalam kegiatan penyuluhan ini berkaitan dengan better farming. Penyuluhan dilaksanakan dengan konsep santai tetapi serius, ditempatkan pada suasana yang tepat dan nyaman, sehingga menciptakan keharmonisan dan komunikasi yang baik antara penyuluh dan petani.
Better Farming (BF)
BF merupakan kegiatan turun ke lahan pertanian, sesuai dengan komoditi yang berpotensi di desa. Kegiatan turun ke lahan diikuti oleh penyuluh, petani, dan mahasiswa. Kegiatan pengelolaan lahan pertanian dilaksanakan sesuai yang disampaikan oleh para penyuluh, dengan teknologi yang tepat guna dan efektif. Dilaksanakannya BF bertujuan agar tercipta semangat bekerja bersama dengan menerapkan teknik yang tepat.

3.      FUN
              Fun yang merupakan wujud sebuah apresiasi mahasiswa untuk penyuluh dan petani. Fun menampilkan pentas karya seni mahasiswa pertanian, dikemas dalam aksi yang menarik, unik, dan menyenangkan. Kegiatan fun ini diberi nama Agrifestival Day (AD). AD dilaksanakan dalam beberapa kegiatan yang menyenangkan, diantaranya yaitu penampilan kreasi seni dari mahasiswa juga penduduk desa, permainan dan makan besar bersama. Pemberitahuan pemenang dan pemberian hadiah YPC juga akan diumumkan saat kegiatan ini berlangsung. AD dilaksanakan sebagai kegiatan penutup dengan harapan dapat memberi kesan akhir yang baik.

Thursday, 1 August 2013

Budidaya Mentimun


Mentimun biasa dikenal dengan timun (Jawa), bonteng (Sunda), ataucucumber (Inggris), termasuk dalam famili Cucurbitaceae. Kegunaan mentimun antara lain untuk mentimun segar dan untuk bahan dasar acar.
Tanaman mentimun bisa dibudidayakan pada ketinggian 200-800 m dpl, dengan ketinggian optimal 400 m dpl. Tekstur tanah yang cocok adalah yang berkadar liat rendah dengan pH 6-7. Budidaya mentimun dilakukan antara lain dengan perkecambahan benih, persemaian, pengolahan lahan, penanaman bibit, serta pemupukan.
Selain itu, pemeliharaan menjadi kunci penting dalam pembudidayaan salah satunya pemasangan mulsa yang sebaiknya dilakukan setelah bibit mentimun dipindahkan ke lapangan. Mulsa dapat berupa jerami padi atau mulsa plastik hitam perak.
Pengairan juga sangat diperlukan terutama bila tanaman mentimun ditanam saat musim kemarau. Penyiraman dilakukan secukupnya dan sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Penyiangan  gulma dilakukan karena gulma dapat menjadi inang pengganti OPT, selain itu akan menimbulkan persaingan dalam mendapatkan hara bagi tanaman mentimun. Sanitasi dilakukan dengan menghilangkan bagian tanaman atau tanaman yang sakit agar tidak menjadi sumber penularan penyakit.
Pengendalian Organisme Penggganggu Tumbuhan (OPT) tak kalah penting. Beberapa OPT penting pada  mentimun antara lain kumbang mentimun dan kumbang totol hitam. Pengendalian OPT yang dapat dilakukan seperti mengambil dan memusnahkan telur, larva, imago hama, juga bagian tanaman maupun tanaman sakit yang dapat menjadi sumber inokulum penyakit. Selain itu pengendalian kimiawi secara selektif menggunakan pestisida yang tepat, juga dengan penggunaan varietas tahan.
Mentimun mudah mengalami kehilangan kandungan air setelah panen sehingga buah menjadi keriput dan tidak tahan lama. Oleh karena itu sebaiknya setelah panen, mentimun disimpan di tempat yang teduh dan terlindung dari sinar matahari secara langsung. Apabila hendak dikemas sebaiknya kemasan diberi lubang agar sirkulasi udara lancar, dan ditempatkan di tempat sejuk.

Wednesday, 31 July 2013

Pupuk Organik Dari Sampah Kota


Debit sampah di kota besar semacam Jakarta bisa mencapai 8500 ton per hari.  Persentase terbesar dari jumlah sampah tersebut adalah sampah organik yang potensial untuk dikembangkan sebagai pupuk.  BPTP DKI Jakarta telah menghasilkan kajian dalam pemanfaatan limbah dengan metode pengomposan, formula pupuk organik padat dalam bentuk pelet dan granul ("HPS Granular/HPS Pelet'), dan pupuk organik cair "HPS-1" (Harapan Petani Sejahtera).
Teknologi pengomposan sampah organik pasar yang telah teruji paling sesuai untuk jenis sampah tersebut (kandungan air sangat tinggi) adalah melalui pengaturan sistem drainase melalui kemiringan bidang pengomposan sebesar 15o serta pembuatan alur-alur pembuangan lindi pada bidang sejajar kemiringan bidang. Selain itu melalui pengaturan sistem aerasi menggunakan bambu atau paralon yang dilubangi pada sisi-sisinya dan ditanam di dalam tumpukan bahan kompos; serta perlakuan inokulasi menggunakan mikroba eksogenous.  Karakteristik kimia kompos yang dihasilkan, diantaranya, C organik 13%, N-total 3,53%, P-total 0,53%, K-total 4,44%, Ca 5,80%, Mg 1,34%, C/N ratio 10 setelah 14 hari waktu pengomposan.
Komposisi formula pupuk organik padat dalam bentuk pelet dan granul berbahan baku kompos sampah kota (Pupuk HPS Granular/HPS Pelet) yang dikembangkan meliputi tepung kompos sampah kota 75% (b/b), Batuan Fosfat 10% (b/b), Arang Sekam 10% (b/b), Zeolit 5% (b/b), serta kultur campuran penambat N-bebas dan pelarut fosfat dengan kerapatan minimal 106 sel.g-1 bahan pupuk.  Formulasi pupuk HPS-1 meliputi ekstrak sampah sayur dan buah 70% (v/v) dan Molase 30% (v/v) yang difermentasi secara anaerobik selama 14 hari menggunakan kultur campuran Lactobacillus sp.  Hasil fermentasi sebanyak 80% (v/v) diperkaya hasil fermentasi batuan fosfat 20% (v/v) dan kultur campuran pelarut fosfat (Pseudomonas sp.) dan penambat N bebas (Azozpirilium sp.), masing-masing dengan kerapatan 106-109 sel.ml-1.
Pada beberapa komoditas tanaman sayuran (terong, kacang panjang, sawi, selada, bayam, dan kangkung serta jagung manis)  pupuk HPS Granul, HPS Pelet, maupun HPS-1 (cair) memiliki nilai efektivitas agronomis nisbih (RAE) berkisar 60-87% dibandingkan pupuk kimia NPK (Teknologi Petani).  Berdasarkan nilai RAE tersebut, maka pupuk HPS tersebut secara umum layak untuk digunakan sebagai pupuk alternatif pengganti pupuk kimia dalam sistem pertanian organik tanpa pupuk mineral/kimia atau dapat juga dikombinasikan dengan pupuk kimia guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi pupuk kimia dalam sistem pertanian konvensional.
Teknologi pembuatan pupuk dari sampah tersebut telah didiseminasikan pada semua wilayah di DKI Jakarta, baik melalui forum yang difasilitasi oleh Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta dan Suku Dinas Pertanian di lima wilayah kota, maupun melalui media dan kegiatan diseminasi BPTP Jakarta (media cetak, audio visual, gelar dan temu teknologi, serta pertemuan rutin dengan Kelompok Tani dan Gabungan Kelompok Tani). 
Hingga saat ini, Teknologi pengomposan pupuk dari sampah kota telah diadopsi oleh Kelompok Tani Adenium Jaya, Jagakarsa, Jakarta Selatan.  Sementara itu, teknologi pembuatan pupuk cair (HPS-1) telah diadopsi oleh Kelompok Tani Nusa Indah, Jakarta Selatan. 
Penerapan pembuatan pupuk organik padat dan cair sedang diinisiasi untuk diterapkan di Kelompok Tani Primatara dan Kelompok Peternak di Wilayah Mampang Prapatan, Jakarta selatan.  Selain itu, tercatat beberapa kelompok masyarakat dan kelompok tani telah menelusuri lebih lanjut informasi teknologi yang dikembangkan guna ditindaklanjuti dalam penerapan di lapang.